Teknoloko.com – Korea Selatan, fenomena Cagongjok kombinasi kata café dan gongbu (belajar) tumbuh pesat sejak pandemi. Banyak orang yang bekerja atau belajar di kafe secara intens, menjadikannya kantor atau ruang kelas darurat (18/08).
Tren ini semakin marak di kota seperti Seoul, di mana kafe tersedia di hampir setiap sudut jalan. Kota ini juga menjadi pusat bisnis dan pemerintahan Korea Selatan, sehingga tidak heran mengapa sangat ramai.
Para “Cagongjok” Bawa PC, Hingga Printer?
Bukan sekadar laptop, beberapa pengunjung bahkan membawa desktop, printer, kabel ekstensi, bahkan partisi meja untuk membentuk ruang kerja pribadi di kafe.
Beberapa foto viral menunjukkan penggunaan printer dan setup sepadan kantor di dalam Starbucks, apa nggak repot?
Hal ini tentunya mengganggu pengguna lain, karena meja bersama menjadi tidak bisa dipakai oleh pelanggan lainnya. Apalagi Korea Selatan terkenal dengan penduduknya yang sering WFC dan banyaknya mahasiswa yang nugas di kafe.
Starbucks Korea Melarang Bawa Barang Berat!
Menanggapi keluhan dan tren tersebut, Starbucks Korea memasang pengumuman resmi di seluruh cabangnya.
Pelanggan “dilarang membawa perangkat kantor besar seperti desktop, printer, kabel ekstensi, dan partisi meja” ke dalam toko.
Laptop dan perangkat pribadi kecil masih diperbolehkan, dan tidak ada pembatasan durasi berada di kafe, fokus utamanya adalah menjaga kenyamanan, akses, dan ketersediaan ruang untuk semua pelanggan.
Selain itu, pengumuman juga mengimbau pelanggan untuk mengambil barang-barang mereka saat meninggalkan tempat duduk untuk waktu lama, serta berbagi meja bersama agar lebih banyak orang bisa menggunakan ruang secara adil.
Ternyata ada kekurangan ketika pengguna duduk terlalu lama tanpa Re-order sesuatu di sebuah tempat usaha atau kafe.
Sebuah kopi di kafe hanya menutupi sekitar 1 jam 31 menit tempat duduk; pelanggan yang berlama-lama tanpa membeli lebih dapat merugikan usaha.
Meskipun tren Cagongjok terus tumbuh dan bahkan mendapat dukungan di beberapa kafe independen, Starbucks memilih untuk membatasi penggunaan ruang agar tetap inklusif dan nyaman untuk semua.
Fenomena cagongjok orang bekerja atau belajar dengan membawa perlengkapan kantor ke kafe menguat di Korea Selatan, mengubah atmosfer santai kafe menjadi kantor darurat.
Starbucks mengambil langkah tegas dengan melarang perangkat besar seperti PC, printer, dan partisi demi mengembalikan fungsi utama kafe sebagai ruang publik yang nyaman.
Meski laptop masih diperbolehkan, kebijakan ini mengingatkan pentingnya keseimbangan antara kenyamanan individu dan hak bersama untuk menikmati ruang publik. Bagaimana menurutmu? Sepertinya tren ini sedikit “memalukan” jika terjadi di Indonesia.


