Teknoloko.com – Di balik jargon “Terhubung, Tumbuh, Terjaga” yang menjadi slogan baru Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), terselip sebuah tekanan halus namun mendesak.
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid secara terbuka mendorong Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (Apjatel) untuk memastikan bahwa setiap kilometer kabel fiber optik yang ditanam, setiap menara BTS yang didirikan, harus berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi di daerah.
Ini bukan sekadar ajakan, melainkan mandat strategis. Dalam pernyataannya, Meutya menegaskan bahwa pembangunan konektivitas harus selaras dengan program prioritas pemerintah untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi delapan persen.
Dengan kata lain, infrastruktur digital tidak lagi dilihat sebagai utilitas pasif, melainkan sebagai motor penggerak ekonomi aktif yang wajib menunjukkan return on investment bagi masyarakat.
Tetapi, Meutya juga menyentuh sisi humanis dari gelombang digitalisasi yang kerap terlupakan. Dia mengingatkan bahwa membangun jaringan saja tidak cukup.
Edukasi masyarakat tentang pemanfaatan internet untuk hal positif dan penguatan interaksi keluarga di era gawai menjadi bagian integral dari tugas asosiasi ini. Pesannya jelas: kemajuan teknologi tidak boleh mengikis fondasi sosial terkecil, yaitu keluarga.
Apjatel, yang menghimpun perusahaan-perusahaan penyedia jaringan seperti kabel fiber optik dan satelit, tampaknya telah bergerak. Kerja sama baru mereka dengan International Fiber Alliance (IFA) untuk mengimplementasikan jaringan Open Access Fiber adalah sinyal konkret.
Model ini diharapkan dapat mengoptimalkan infrastruktur, meningkatkan kompetisi sehat di antara penyelenggara layanan internet (ISP), dan pada akhirnya menurunkan harga internet berkualitas tinggi bagi konsumen.
Pertanyaan kritisnya kini adalah: Akankah tekanan pemerintah ini berhasil mengubah paradigma pembangunan infrastruktur dari sekadar “penyambungan” menjadi “pemberdayaan”? Dan, apakah operator siap mengambil peran ganda, bukan hanya sebagai teknisi jaringan, tetapi juga sebagai agen transformasi sosial-ekonomi digital di daerah-daerah?
Jawabannya akan menentukan apakah lompatan digital Indonesia benar-benar inklusif atau hanya meninggalkan sebagian wilayah dalam status “terhubung, tetapi tidak tumbuh”.


