Teknoloko.com – Samsung Galaxy Z TriFold, smartphone lipat tiga layar terbaru, kembali mencatatkan status Soldout atau terjual habis dalam hitungan menit di gelombang restock kedua di Korea Selatan.
Namun, di balik headline yang mengesankan itu, terungkap fakta yang memicu pertanyaan, apakah ini benar-benar kesuksesan pasar, atau strategi pemasaran yang diatur dengan cermat?
Laporan mengungkapkan bahwa total unit yang dijual dalam dua gelombang penjualan awal itu hanya 3.000 unit, dengan gelombang pertama sebanyak 1.000 unit dan restock kedua sebanyak 2.000 unit.
Angka ini disebut-sebut “sangat kecil dan menggelikan” untuk pasar dengan populasi sekitar 50 juta orang seperti Korea Selatan.
Analisis menunjukkan bahwa Samsung dihadapkan pada dua pilihan: menunggu hingga produksi mencukupi untuk memenuhi permintaan potensial, atau meluncurkannya dengan stok yang sangat terbatas untuk menciptakan sensasi terjual habis berulang kali.
Fenomena “Sold Out” yang terjadi dalam 2-4 menit ini secara otomatis menghasilkan berita dan buzz media sosial, membangun persepsi bahwa produk tersebut laku keras seperti kacang goreng terlepas dari volume sebenarnya.
Taktik ini bukanlah hal baru di dunia teknologi dan barang mewah, sering disebut sebagai kelangkaan buatan (Artificial Scarcity) atau “Hype Cycle“.
Tujuannya adalah untuk memanfaatkan FOMO (Fear Of Missing Out) dan meningkatkan nilai persepsi serta eksklusivitas produk sebelum peluncuran yang lebih luas.
Galaxy Z TriFold dijadwalkan akan segera meluncur di pasar lain seperti AS, UAE, Singapura, China, dan Taiwan. Pertanyaan besar untuk peluncuran globalnya adalah akankah pola terjual habis dalam hitungan menit ini terulang karena permintaan yang benar-benar tinggi, atau karena Samsung kembali membatasi stok secara strategis?
Jawabannya akan menentukan apakah hype ini murni strategi pemasaran atau cerminan dari permintaan riil yang luar biasa untuk perangkat inovatif dengan harga premium.


