Teknoloko.com – Samsung dikenal cepat dalam merespons tren teknologi. Namun untuk produk satu ini, raksasa teknologi asal Korea Selatan justru memilih pendekatan berbeda.
Proyek ambisius bertajuk Project Moohan, sebuah headset Extended Reality (XR) yang dikembangkan bersama Google, resmi ditunda peluncurannya hingga Oktober 2025.
Kabar ini menimbulkan banyak tanya. Apakah Samsung sedang menyusun strategi besar? Atau justru menghadapi tantangan teknis di balik layar?
Project Moohan bukan sekadar produk baru, ia simbol ambisi Samsung di pasar realitas campuran (XR), wilayah yang kini didominasi Apple dengan Vision Pro dan Meta dengan lini Quest-nya.
Dibangun di atas platform Android XR, headset ini dikembangkan langsung bersama Google, menandakan kerja sama strategis antara dua kekuatan besar.
Samsung juga menggandeng Qualcomm untuk otak perangkat ini: Snapdragon XR2 Plus Gen 2, chipset terbaru yang dirancang khusus untuk pengalaman XR imersif.
Layarnya? Panel micro-OLED berukuran 1,3 inci buatan Sony, menjanjikan resolusi super tajam yang menyatu dengan dunia nyata.
Awalnya, Project Moohan dijadwalkan tampil perdana pada 29 September 2025. Tapi laporan dari industri menyebut bahwa Samsung memutuskan menunda peluncuran ke 21 Oktober, dengan peluncuran lokal di Korea dimulai 13 Oktober.
Menurut sumber industri yang dikutip berbagai media teknologi global, Samsung tengah memperkuat strategi pemasaran internal dan memastikan kesiapan perangkat secara menyeluruh. Tak hanya dari sisi hardware, tapi juga software, ekosistem aplikasi, serta kesiapan manufaktur.
Apa yang Ditawarkan Project Moohan?
Meski belum dirilis, bocoran spesifikasi Project Moohan sudah mencuri perhatian:
- Layar: Panel micro‑OLED 1,3 inci (OLEDoS) dari Sony
- Chipset: Snapdragon XR2 Plus Gen 2
- Platform: Android XR (kolaborasi Samsung–Google)
- Fitur andalan: AI multimodal, interaksi gestur, konektivitas Android-native
- Produksi awal: Sekitar 100.000 unit
- Harga: Diperkirakan antara KRW 2,5 juta hingga KRW 4 juta (setara Rp 29–46 juta)
Dengan spek tersebut, Samsung tidak menargetkan pasar kasual. Headset ini dirancang untuk pengguna profesional, kreator konten, pengembang, hingga eksekutif yang ingin berada di garda depan dunia virtual.
Samsung vs Apple: Siapa Lebih Siap?
Persaingan XR kini menjadi babak baru dari rivalitas dua raksasa teknologi: Samsung dan Apple. Keduanya punya strategi berbeda.
Apple memilih ekosistem tertutup dan menyatukan hardware-software dalam satu kendali. Sementara Samsung bekerja sama dengan Google, membuka peluang ekosistem terbuka berbasis Android XR yang bisa diakses lebih luas oleh developer pihak ketiga.
Keunggulan ini bisa menjadi nilai jual utama Project Moohan, terutama jika Samsung berhasil menyajikan pengalaman XR yang kuat dengan harga lebih kompetitif dibanding Vision Pro.
Bagi Samsung, penundaan Project Moohan justru bisa jadi bagian dari kalkulasi cermat. Pasar XR bukan hanya soal siapa yang lebih dulu hadir, tapi siapa yang paling siap mengisi ruang baru ini, dari sisi pengalaman pengguna, konten, hingga integrasi dengan kehidupan sehari-hari.
Dan jika Samsung berhasil, Project Moohan bisa jadi bukan sekadar headset, tapi pintu gerbang menuju masa depan baru dalam cara manusia bekerja, belajar, dan berinteraksi.


