Teknoloko.com – Perlombaan teknologi kamera ponsel yang tiada henti, para raksasa industri tampaknya sedang menuju ke persimpangan jalan yang sama.
Bocoran terbaru dari Korea Selatan menyebut bahwa Samsung sedang mengembangkan sensor kamera Global Shutter yang berpotensi hadir pada lini flagship Galaxy S27. Namun, langkah ini bukanlah inovasi soliter.
Apple pun dilaporkan tengah menggarap teknologi serupa untuk iPhone mendatang, menandakan dimulainya babak baru persaingan yang justru mengerucut pada satu standar teknis.
Lalu, apa yang membuat Global Shutter begitu istimewa? Teknologi ini merupakan lompatan dari sensor Rolling Shutter yang umum digunakan saat ini. Alih-alih membaca piksel secara beruntun layaknya pemindai, Global Shutter mampu menangkap seluruh cahaya di seluruh piksel sensor secara bersamaan dan instan.
Hasilnya? Rekaman objek bergerak cepat seperti mobil balap atau anak yang sedang berlari akan terbebas dari efek distorsi yang dikenal sebagai Jelly Effect atau Rolling Shutter Distortion.
Selama ini, keunggulan ini hanya dinikmati oleh kamera profesional berharga mahal yang digunakan dalam liputan olahraga atau sistem industri.
Jika benar diadaptasi untuk smartphone, teknologi ini akan mengubah secara fundamental kualitas foto dan video yang bisa dihasilkan dari saku kita.
Rincian teknis yang bocor menunjukkan sensor buatan Samsung ini memiliki resolusi 12 megapiksel dengan ukuran piksel 1,5 mikrometer dalam konfigurasi 2×2.
Spesifikasi ini mengisyaratkan penggunaannya yang mungkin untuk kamera telefoto atau ultrawide, bukan kamera utama. Fitur unggulan lainnya adalah adanya Analog-to-Digital Converter (ADC) yang tertanam di setiap piksel.
Ini memungkinkan konversi data analog (cahaya) menjadi digital (gambar) terjadi lebih cepat dan efisien, mendukung kecepatan pengambilan gambar yang lebih tinggi.
Fenomena ini bukan sekadar pertarungan spesifikasi. Ini adalah contoh klasik di mana persaingan ketat justru mendorong konvergensi inovasi.
Ketika Samsung dan Apple dua pemimpin pasar secara independen berinvestasi pada jalur teknologi yang sama, itu adalah sinyal kuat bahwa Global Shutter dipandang sebagai masa depan.
Hal ini akan memaksa seluruh pemain industri untuk mengikutinya, berpotensi menurunkan biaya produksi dan menjadikan teknologi yang kini elitis sebagai standar baru di kelas premium.
Pertanyaan yang tersisa bukan lagi apakah teknologi ini akan datang, melainkan siapa yang akan mengimplementasikannya dengan cara yang paling mulus dan bermanfaat bagi pengguna akhir. Apakah akan ada revolusi dalam mode slow-motion atau fotografi aksi? Bagaimana pengaruhnya terhadap konsumsi daya? Perlombaan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan menentukan pemenang sesungguhnya di babak berikutnya dari perang kamera smartphone.
Editor: Hudalil Mustakim


