Teknoloko.com – Di tengah perlombaan sengit yang didominasi oleh OpenAI, Google, dan Anthropic, Meta dilaporkan sedang mempersiapkan senjata baru, yaitu apalagi jika nukan AI baru mereka.
Perusahaan raksasa teknologi itu dikabarkan sedang mengembangkan dua model kecerdasan buatan baru dengan nama sandi “Mango” dan “Avocado”, yang rencananya akan dirilis pada paruh pertama 2026. Pengembangan ini dipimpin oleh unit Superintelligence Labs Meta, yang kini dikepalai oleh Alexandr Wang, pendiri Scale AI.
Berdasarkan sesi internal yang dilaporkan TechCrunch, “Mango” adalah model AI untuk gambar dan video, sementara “Avocado” adalah model berbasis teks. Alexandr Wang bersama Chief Product Officer Meta, Chris Cox, memaparkan bahwa untuk model teks (Avocado), mereka menargetkan peningkatan kemampuan coding yang lebih baik.
Yang lebih ambisius, Meta juga mengeksplorasi pengembangan model yang mampu memahami informasi visual dan melakukan penalaran serta perencanaan secara mandiri, tanpa perlu dilatih untuk setiap skenario spesifik.
Pengumuman rencana ini datang di saat yang krusial bagi divisi AI Meta. Sepanjang tahun 2025, divisi tersebut mengalami gelombang restrukturisasi dan pergantian kepemimpinan yang signifikan. Sejumlah peneliti yang baru bergabung dilaporkan telah meninggalkan Superintelligence Labs.
Pukulan telak datang ketika Yann LeCun, Kepala Peneliti AI legendaris Meta, mengundurkan diri bulan lalu untuk mendirikan startup sendiri. Situasi ini memperkuat narasi bahwa Meta mulai tertinggal dalam perlombaan inovasi AI inti.
Hingga saat ini, Meta belum memiliki produk AI yang benar-benar mendominasi pasar. Keberadaan asisten Meta AI (Meta AI) sebagian besar masih mengandalkan integrasi dan jangkauan audiens miliaran pengguna di platform sosial seperti Facebook, Instagram, dan WhatsApp.
Asisten ini lebih sering ditemukan diselipkan dalam kolom pencarian aplikasi, ketimbang menjadi produk mandiri yang dicari karena keunggulan teknologinya.
Oleh karena itu, pengembangan “Mango” dan “Avocado” bukan sekadar tambahan fitur, melainkan sebuah upaya strategis untuk mengejar ketertinggalan dan membuktikan relevansi.
Meta perlu menunjukkan bahwa mereka bisa menciptakan model AI generasi berikutnya yang tidak hanya sekedar ikut-ikutan, tetapi mampu bersaing secara teknis dengan GPT, Gemini, atau Claude.
Keberhasilan atau kegagalan dua model ini pada 2026 nanti akan sangat menentukan posisi Meta dalam peta kekuatan AI global dan kemampuannya untuk bertransformasi dari perusahaan media sosial menjadi pemain utama di era kecerdasan buatan.

