Teknoloko.com Di sudut-sudut kota besar Indonesia, dari Jakarta hingga Medan, pemandangan ini sudah lazim, kabel-kabel fiber optik bergantungan bak sarang laba-laba raksasa di tiang-tiang listrik dan telepon.
“Semrawut” adalah kata yang paling sering digunakan untuk mendeskripsikannya. Namun, di balik kekacauan visual ini, mengalir darah nadi ekonomi dan sosial modern data yang menghubungkan jutaan orang.
Kondisi infrastruktur fisik digital Indonesia yang kerap berantakan ini kini menjadi target operasi bersih-bersih besar-besaran. Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi Indonesia (Apjatel) baru saja mengumumkan rencana ambisius untuk menata jaringan kabel fiber optik di 40 kabupaten/kota pada 2026, dengan total panjang mencapai 2.000 kilometer.
“Kita akan melakukan penataan jaringan kabel fiber optik secara nasional,” tegas Jerry Mangasas Siregar, Ketua Umum Apjatel, dalam sebuah pertemuan di Jakarta Selatan. Targetnya rata-rata 50 km per wilayah.
Ini adalah upaya sistematis setelah pekerjaan perintis dimulai sejak 2021, di mana 539 kilometer jaringan di wilayah Jabodetabek telah berhasil ditata, disusul wilayah-wilayah seperti Sumatra Utara dan Jawa Barat.
Namun, ini lebih dari sekadar proyek merapikan kabel. Visi yang digaungkan Apjatel menyentuh aspek strategis yang lebih dalam. Rencananya, program ini akan diperluas ke Bali, Jawa Timur, dan daerah lain, dengan mendorong kolaborasi bersama pemerintah daerah.
Yang menarik, penataan infrastruktur ini dipadukan dengan agenda perluasan konektivitas untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Pada 2026, Apjatel akan memulai pembangunan jaringan konektivitas di kawasan Danau Toba sebagai proyek percontohan. Jerry berharap ini bisa menjadi kekuatan ekonomi baru, dan rencananya akan direplikasi di beberapa pulau di Indonesia.
Tujuannya mulia, menggerakkan ekonomi lokal dan mendukung program strategis pemerintah seperti interkoneksi puskesmas dan sekolah.
Tantangannya terletak pada eksekusi dan koordinasi antar banyak pemangku kepentingan. Jika berhasil, ini bukan sekadar proyek infrastruktur biasa, melainkan upaya mendasar untuk membereskan ‘usus buntu’ digital Indonesia, agar aliran datanya lancar dan bisa benar-benar menghidupi ekonomi daerah.


