Teknoloko.com – Di sebuah ruang di Bandung, masa depan digital Indonesia sedang ditulis dengan perspektif yang sangat personal dan inklusif dengan kerja sama dua perusahaan besar di Indonesia.
Melalui program “Terampil di Awan 2.0”, Telkomsel dan Amazon Web Services (AWS) tidak sekadar memberikan pelatihan, tetapi membuka pintu partisipasi penuh bagi 295 siswa dan 85 guru dari 33 Sekolah Luar Biasa (SLB) di Bandung Raya.
Mereka dicetak menjadi talenta mahir komputasi awan (Cloud) dan kecerdasan artifisial generatif (Generative AI), membuktikan bahwa teknologi mutakhir adalah alat demokratis yang bisa dikuasai siapa saja.
Program ini adalah fase kedua dari inisiatif yang sejak 2023 telah memberdayakan total 750 talenta digital inklusif. Para peserta diajarkan fondasi cloud, pembuatan website, dan yang paling menarik, penggunaan AWS PartyRock untuk membuat aplikasi berbasis AI dengan coding sederhana.
Hasilnya bukan sekadar sertifikasi, tetapi 50 proyek nyata yang lahir dari identitas dan kebutuhan unik para pembuatnya. Proyek-proyek juara seperti “Dapoerku” (perencana menu masakan), “MotorMate” (asisten modifikasi motor), dan “EcoRecycle Hub” (panduan kerajinan tangan) menunjukkan bagaimana teknologi berbicara dalam bahasa lokal dan menyelesaikan masalah konkret.
Direktur Utama Telkomsel, Nugroho, menyatakan visi program ini adalah memastikan inklusivitas dan memberi kembali (Give Back) kepada masyarakat. Sementara itu, pernyataan Yashinta Bahana dari AWS menggarisbawahi filosofi besar di baliknya.
Digitalisasi yang inklusif dan berdampak di Indonesia, ini tidak mungkin dapat dilakukan secara sendiri-sendiri”. Kolaborasi antara raksasa telekomunikasi, penyedia cloud terkemuka, dan dunia pendidikan khusus ini menjadi model sinergi yang powerful.
Inisiatif ini melampaui CSR (Corporate Social Responsibility) konvensional. Dengan memberikan akses ke platform pembelajaran AWS Skill Builder selama setahun dan sertifikasi cloud bagi guru, program ini menanamkan benih keberlanjutan yang sistemik.
Ia tidak hanya memberikan ikan, tetapi juga mengajarkan memancing, sekaligus melatih para pelatih pemancing baru. Pada akhirnya, kisah sukses “Terampil di Awan” adalah pengingat bahwa potensi digital bangsa ini akan mencapai puncaknya hanya ketika setiap lapisan masyarakat, tanpa terkecuali, diberi alat dan kesempatan untuk membangunnya.


